Menunggu Calon Bupati yang Belum Pasti
INDRAMAYU - Pemilihan Bupati Indramayu 2015-2020 akan digelar pada bulan Desember 2015 secara serentak. Tinggal sepuluh bulan lagi. Bukan waktu yang lama. Meskipun demikian sejauh ini belum ada calon bupati yang pasti. Semua masih bakal calon. Semua masih abu-abu. Semua masih saling menunggu. Memang sudah ada puluhan nama yang muncul di media massa, media sosial, hingga media "cocot maricot" (dari mulut ke mulut). Tapi belum ada satupun yang resmi sebagai calon bupati.
Partai Golkar sebagai "Juara Bertahan" yang telah berhasil memenangkan pasangan Hj Anna Sophanah-Drs H Supendi MSi lima tahun lalu, merupakan satu-satunya partai yang telah memiliki tiket untuk mengusung calon bupati sendiri, tanpa harus berkoalisi. Dengan 19 kursi DPRD Indramayu, lebih dari cukup untuk mengusung pasangan calon sendiri. Karena syarat minimal untuk bisa mengusung calon bupati adalah memiliki 10 kursi (20% dari jumlah total kursi DPRD sebanyak 50 kursi). Tapi partai ini terlihat santai ditengah hempasan badai.
PDI Perjuangan sebagai partai terbesar kedua di Kota Mangga, sebenarnya juga sudah aman untuk bisa mengusung calon bupati, apabila koalisi dengan Partai Nasdem di parlemen memang solid hingga pilbup nanti. Seperti diketahui, PDIP memiliki 7 kursi dan Nasdem 3 kursi di DPRD Indramayu, dan keduanya tergabung dalam Fraksi PDI Perjuangan. PDI Perjuangan bahkan menjadi partai pertama yang telah melakukan penjaringan dan penyaringan bakal calon bupati Indramayu, dan tinggal menunggu hasilnya.
Namun koalisi ini belakangan sedikit terusik, karena Partai Nasdem ternyata juga membuka pendaftaran bakal calon bupati Indramayu. Belum diketahui secara pasti nasib koalisi ini. Namun menurut pengurus DPD Partai Nasdem Indramayu, untuk masalah koalisi sepenuhnya akan ditentukan oleh DPP Partai Nasdem.
Bagaimana dengan PKB (7 kursi), Gerindra (5 kursi), PKS (4 kursi), Demokrat (3 kursi), dan Hanura (2 kursi) ? Mereka memang harus berkoalisi untuk bisa mengusung pasangan calon bupati. Tapi lagi-lagi, semua mengaku masih melakukan penjajagan. Masih melakukan lobi-lobi dan kasak-kusuk. Ada yang menginginkan Koalisi Merah Putih (KMP) saat pilpres lalu dipertahankan. Begitu juga dengan parpol yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH), berharap bisa mengulang kemenangan yang telah diraih saat pilpres. Meskipun demikian, bukan hal yang tak mungkin kalau mereka akan melebur dalam "Koalisi Jumbo" untuk menantang "Juara Bertahan".
Seandainya "Koalisi Jumbo" ini menjadi kenyataan, tentunya akan terjadi persaingan sengit dalam pilbup nanti. Apalagi kalau PDI Perjuangan kemudian ikut melebur dalam Koalisi Jumbo, maka diprediksi akan terjadi pertarungan sengit satu lawan satu (head to head) antara Partai Golkar dan Non Golkar. Mungkinkah? Bukan hal yang mustahil. Tapi kalau masing-masing pimpinan parpol Non Golkar masih mengedepankan ego masing-masing, masih merasa paling hebat, masih tidak mau "ngaca", maka "Koalisi Jumbo" cuma Ngelombo (bohong).(oet)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar